Masih banyak suku terasing di Indonesia, ini dia 10 diantaranya

Indonesia memiliki beragam suku, bahasa, dan budaya. Pada tahun 2010 lalu, BPS mencatat setidaknya ada 1.340 suku bangsa di seluruh Nusantara. Beberapa diantaranya suku terasing yang tidak tersentuh moderenisme kehidupan saat ini.

Kira-kira apa saja suku terasing di Indonesia? Berikut 10 suku terasing yang kami rangkum untuk Anda.

10

Suku Bauzi, Papua

Suku Terasing

mazmuzie.blogspot.co.id

Banyak sebutan dari suku Bauzi ini, diantaranya Baudi, Bauri, dan Bauji. Menurut Summer Institute of Linguistics (SIL) Amerika Serikat, suku ini termasuk ke dalam suku terasing di indonesia. Begitu pula versi Badan Pusat Statistik (BPS), Bauzi dikategorikan sebagai salah satu dari 20 suku terasing di Papua.

Suku ini hampir tidak pernah bersentuhan langsung dengan kehidupan modern karena luasnya hutan belantara, lembah, rawa, dan sungai-sungai besar yang membatasinya. Batas-batas geografi tersebut mengisolirnya dari pergaulan masyarakat pada umumnya.

Suku Bauzi memiliki anggota sekitar 1.500 jiwa. Menyebar dibagian utara dan tengah wilayah mamberamo.

9

Suku Polahi, Gorontalo

Suku terasing

Youtube

Suku polahi merupakan suku terasing yang hidup di pedalaman hutan Gorontalo. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, polahi adalah orang-orang yang pada masa penjajahan belanda dulu lari kedalam hutan karena tidak mau dijajah oleh belanda. Mereka akhirnya hidup di hutan Boliyohuto, Paguyaman dan Suwawa sampai sekarang.

Kehidupan Suku Polahi cukup terisolir. Mereka tidak mengenal hitung-menghitung dan tak mengenal nama-nama hari. Ada yang janggal menurut kebudayaan kita pada umumnya, suku ini membolehkan kawin dengan saudara kandung.

Cara mereka mendapatkan kebutuhan makanan sehari-hari dengan bercocok tanam alakadarnya. Sisanya berburu rusa atau babi hutan.

8

Suku Togutil, Maluku Utara

Youtube

Suku Tobelo Dalam atau biasa disebut dengan Suku Togutil, hidup secara berpindah-pindah dipedalaman hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo dan Buli. Wilayah hidupnya masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, Maluku Utara.  Togutil mengandung arti negatif, yakni “terbelakang”. Istilah ini sebutan dari masyarakat luar terhadap suku tersebut.

Seperti suku-suku pedalaman lain, mereka tergantung pada keberadaan hutan. Mereka bermukim dekat sungai dengan rumah kayu dan bambu, beratap daun palem.

7

Suku Kajang, Sulawesi Selatan

ammatoa.com

Suku Kajang, ciri-ciri khas yang mereka miliki berpakaian serba hitam dan tidak menggunakan alas kaki. Orang-orang suku kajang sangat kuat memegang adat istiadatnya.

Suku kajang hidup di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sekitar 200 km dari kota Makassar. Mereka bertahan hidup dengan cara tradisional seperti mencari ikan disungai, bercocok tanam, dan juga berburu.

6

Suku Sakai, Riau

Suku Sakai adalah suku yang terasing dan masih hidup secara nomaden di daerah Riau. Menurut cerita, penduduk Suku Sakai berasal dari kerajaan Pagaruyung yang bermigrasi ke Riau. Data Kependudukan yang dikeluarkan oleh Departemen Sosial Republik Indonesia menghitung jumlah anggota Suku Sakai sebanyak 4.995 jiwa.

Cara bertahan hidup suku ini juga masih sama dengan suku lain yaitu semua dilakukan secara tradisional, berburu, bercocok tanam, mencari ikan.

5

Suku Korowai, Papua

Suku Korowai mulai ditemukan 30 tahun lalu di pedalaman Papua. Suku ini memiliki anggota sekitar 3.000 orang. Hal yang unik pada suku Korawai mereka membangun rumah tinggal puncak-puncak pohon tinggi. Bahkan ketinggiannya bisa sampai 50 meter dari permukaan tanah.

Orang-orang suku korowai merupakan satu-satunya suku terasing yang tidak menggunakan koteka sama sekali. Konon suku ini mempunyai kebiasaan memakan daging manusia yang sudah mati.

4

Suku Laut, Kepulauan Riau

Orang Laut atau biasa disebut dengan suku Laut merupakan suku yang menghuni Kepulauan Riau. Secara umum Suku Laut adalah berbagai kelompok yang bermukim di pulau-pulau dan di sungai-sungai Lingga, Pulau Tujuh,  dan pulau-pulau dilepas pantai.

Dahulu suku ini berperan penting dalam kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Johor, dan Kesultanan Malaka. Mereka bertugas menjaga selat-selat, memandu para pedagang, dan mengusir para bajak laut. Bahasa yang mereka gunakan sebagian besar Bahasa Melayu.

3

Suku Dani, Papua

Suku Dani merupakan suku yang bermukim diwilayah Pegunungan Tengah, Papua. Mereka juga menempati Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Puncak Jaya. Suku Dani sendiri sejak ratusan tahun yang lalu sudah dikenal sebagai petani yang terampil. Mereka juga telah menggunakan alat seperti kapak batu, pisau dari tulang. Suku ini menggunakan “Koteka” sebagai penutup kemaluan mereka yang terbuat dari kulit labu.

Suku Dani ditemukan pertama kali di Lembah Baliem. Mereka mempunyai kepercayaan tentang roh nenek moyang yang menurunkan kesaktiannya kepada anak-anak laki-laki. Contoh kesaktian yang mereka yakini adalah kekuatan menjaga kebun, kekuatan menyembuhkan penyakit, dan juga kekuatan menyuburkan tanah.

Kehidupan masyarakat Suku Dani meskipun terbelakang ternyata sangat damai. Mereka menerapkan sistem gotong royong dalam setiap kegiatannya. Misalnya pada pembangunan rumah, awalnya mereka akan bermusyawarah kemudian membangunnya bersama-sama.

Mata pencaharian suku Dani utamanya dengan berkebun umbi manis dan juga beternak babi. Mereka masih memiliki tradisi yang menyeramkan yaitu “tradisi potong jari”. Hal ini dilakukan disaat ada anggota keluarga yang meninggal. Keluarga yang ditinggal diwajibkan memotong jari mereka sebagai simbol kesedihan.

2

Suku Anak Dalam, Jambi

Suku Anak dalam atau biasa dikenal juga dengan sebutan suku Kubu ataupun Orang Rimba merupakan suku yang terisolasi dari kehidupan luar. Mereka tinggal di Pulau Sumatra tepatnya di provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Populasinya sekitar 200.000 jiwa.

Mayoritas suku anak dalam sekarang merasakan kehidupan yang susah karena hilangnya sumber daya hutan yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan. Mayoritas suku anak dalam mesih memegang teguh kepercayaan animisme. Mereka juga percaya apa yang tumbuh di alam adalah milik bersama.

1

Suku Baduy, Banten

Selain dikenal sebagai suku Baduy suku ini disebut juga sebagai Urang Kanekes. Mereka merupakan suatu kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah Banten. Ada sekitar 5.000 sampai 8.000 penduduk yang tinggal dalam suku tersebut. Mereka menerapkan isolasi dari dunia modern.

Terdapat dua tipe suku Baduy, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Suku Baduy dalam hidup sangat mengisolir diri. Sedangkan Baduy Luar lebih terbuka terhadap perkembangan jaman. Antara kedua Baduy ini hidup dalam masyarakat terpisah. Baduy Luar seringkali menjadi jemabatan dengan antara suku Baduy Dalam dengan masyarakat luas.

Bahasa yang digunakan Suku Baduy adalah Bahasa Sunda dialek Banten. Akan tetapi beberapa diantaranya, terutama suku baduy luar juga lancar menggunakan bahasa Indonesia. Sementara itu, suku Baduy Dalam sangat tertutup dari dunia luar. Bahkan mereka menganggap ber-sekolah itu menentang adat istiadat mereka.