Stephen Hawking yang Saya Kenal

Stephen Hawking
Wikimedia

Saya tidak menyangka, Stephen Hawking, ilmuwan legendaris yang tutup usia 14 Maret 2018 lalu mendapat perhatian luas di Indonesia, setidaknya di sosial media yang saya ikuti. Padahal teori-teori yang dibuatnya tidak banyak gunanya secara praktis.

Berbeda dengan teori Newton atau Einstein yang secara praktis banyak dipakai. Teori Hawking agaknya lebih terbatas untuk sebagian ilmuwan saja. Bagi saya, meskipun berlabel sains teori-teori Hawking lebih mirip filsafat.

Saya mengenal Hawking ketika duduk di bangku SMA. Saat itu, pada tahun 1995 saya mengetahui buku Stephen Hawking yang berjudul Brief History of Time diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sebagai siswa jurusan Fisika (A1) tentu saya sangat penasaran dengan buku yang memaparkan teori terbentuknya jagat raya tersebut. Saya pun harus mengantri untuk meminjam buku itu dari seorang teman.

Kemudian setelah itu, mulai banyak buku populer Hawking lainnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku “Teori Segala Hal” merupakan karya Hawking kedua yang saya baca.

Bisa dikatakan sebelum mengenal sosok Hawking, saya lebih dulu mengenal teori-teorinya. Tapi perlu dicatat, mengenal belum berarti mengerti dan memahami. Meskipun Hawking menjelaskannya dalam bentuk populer yang kata orang-orang mudah dimengerti, namun tetap saja saya kesulitan memahaminya.

Dikemudian hari justru saya lebih banyak memahami dentuman besar, lubang hitam, lubang cacing, dan lain-lain lewat film Star Trex. He..he…

Bagi saya memahami Brief History of Time tidak semudah memahami The Origin of Species-nya Charles Darwin atau Das Kapital-nya Karl Mark. Dibutuhkan imajinasi yang kuat untuk bisa memahami hal-hal yang sangat abstrak. Kesulitan saya memahami teori-teori Hawking, persis seperti anak TK yang disuruh memahami bentuk 3 dimensi (ruang) melalui media 2 dimensi (gambar dalam buku).

Atau, bisa jadi karena saya membaca versi terjemahannya yang kemungkinan telah terdistorsi. Paling enak memang menyalahkan orang lain.

Salah satu contoh, mengenai awal lahirnya jagat raya yang bermula dari peristiwa ledakan besar dari sebuah titik hitam yang kecil, kemudian terus berkembang menjadi semakin besar. Ia membeberkan teorinya itu dengan sejumlah fakta bahwa bintang-bintang, galaksi dan benda-benda di jagat raya bergerak saling menjauh.

Meyakini kebenaran teori Hawking, tidak semudah meyakini teori Newton misalnya. Dimana Newton mengatakan suatu benda yang bergerak akan tetap bergerak kecuali ada yang menghentikannya. Teorinya pun dijabarkan dengan persamaan matematika sederhana yang sangat mudah dibuktikan.

Singkat cerita, karena gagal memahami teori-teorinya saya pun menoleh ke kisah-kisahnya. Dan, ternyata kisah perjalanan hidup Hawking lebih seru dibanding teorinya. Baik itu yang ditulis oleh dia sendiri seperti dalam My Brief History maupun buku yang ditulis orang lain, atau melalui artikel-artikel yang bertebaran di majalah, blog, status sosmed dan lain-lain.

Kebesaran sang Maha Guru Lukasian ini menjadi sangat terasa setelah saya membaca kisah-kisahnya. Terlebih lagi setelah membaca apresiasi kalangan ilmuwan maupun publik secara umum. Justru dari banyak penjelasan orang lain inilah saya bisa sedikit memahami teor-teori Hawking. Saya jadi bisa bilang, “Oh, begitu maksudnya”.

Sekarang kita telah kehilangan ilmuwan besar yang setengah hidupnya dihabiskan di atas kursi roda. Ia memang tidak bisa menggerakan seluruh anggota tubuhnya, kecuali otot pelipisnya yang dia gunakan untuk berkomunikasi lewat bantuan komputer. Namun pikirannya bisa bebas ke sana kemari, menjalajah hingga ke sudut-sudut jagat raya. Mengungkap satu per satu rahasia ilahi yang sebelumnya tak pernah terpikirkan umat manusia.

Selamat jalan Stephen Hawking, RIP.