Status konservasi

Diperbarui 3 bulan yang lalu    

Status konservasi merupakan indikator yang digunakan untuk menunjukkan tingkat keterancaman spesies mahluk hidup dari kepunahan. Status konservasi diterapkan baik untuk hewan maupun tumbuhan. Penetapan status konservasi bertujuan untuk memberikan perlindungan dan pelestarian terhadap spesies mahluk hidup. Status tersebut bisa berbeda-beda di setiap negara, misalnya tumbuhan A berstatus dilindungi di suatu negara tetapi tidak dilindungi di negara lain.

Status konservasi bisa dikeluarkan oleh pemerintah atau lembaga-lembaga yang memiliki perhatian pada keanekaragaman hayati. Status konservasi yang paling banyak dijadikan rujukan secara global diantaranya The IUCN Red List of Threatened Species dan CITES Appendices. Status yang dikeluarkan oleh kedua lembaga tersebut tidak mengikat secara hukum sampai suatu negara mengadopsinya dalam sistem hukum masing-masing. Penerapan status konservasi yang mengikat biasanya berbentuk undang-undang atau peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintahan suatu negara atau otoritas dibawahnya.

IUCN Red List

IUCN adalah organisasi konservasi alam yang didirikan pada tahun 1948. Lembaga ini beranggotakan pemerintahan dari berbagai negara dan organisasi masyarakat sipil.1 IUCN menerbitkan status konservasi berbagai spesies mahluk hidup dalam suatu daftar merah. Daftar tersebut ditinjau dan dievaluasi secara kontinyu, biasanya 5-10 tahun sekali.

IUCN Red List of Threatened Species membagi status konservasi mahluk hidup ke dalam sembilan kategori.2 Berikut penjelasan dari kategori-kategori yang dimaksud:

Status konservasi

 

Extinct (EX)

Punah, status ini diberikan kepada spesies yang sudah punah. Bukti kepunahanya tidak diragukan lagi dan sudah diketahui dengan pasti hingga individu terakhir telah mati. Sebagai contoh adalah harimau bali dan harimau jawa.

Extinct in the wild (EW)

Punah di alam liar, spesies yang dinyatakan punah di alam liar tanpa diragukan lagi. Namun masih ditemukan di tempat-tempat seperti kebun binatang, penangkaran, dan lingkungan diluar habitat alami mereka.

Critically Endangered (CR)

Terancam kritis, status ini diberikan kepada spesies yang beresiko sangat tinggi mengalami kepunahan dan dikhawatirkan akan punah dalam waktu dekat. Biasanya populasinya sangat sedikit dan habitatnya terbatas. Contoh spesies yang masuk kategori CR adalah gajah sumatera dan badak jawa.

Endangered (EN)

Terancam, status ini diberikan kepada spesies yang beresiko sangat tinggi mengalami kepunahan dan dikhawatirkan akan punah di masa yang akan datang. Biasanya populasinya sedikit. Contohnya banteng jawa dan bekantan.

Vulnerable (VU)

Rentan terancam, status ini diberikan kepada spesies yang rentan mengalami kepunahan.

Near thretened (NT)

Mendekati terancam, status ini diberikan kepada spesies yang mungkin ada pada kondisi terancam, namun belum dikategorikan sebagai terancam.

Least consern (LC)

Beresiko rendah, status ini diberikan kepada spesies yang sudah dievaluasi dan tidak dikategorikan sebagai terancam. Contohnya monyet ekor panjang dan babi hutan.

Data deficient (DD)

Kurang data, status ini diberikan kepada spesies yang sudah dievaluasi namun masih kekurangan data untuk dimasukkan ke salah satu kategori.

Not evaluated (NE)

Tidak dievaluasi, spesies yang tidak dievaluasi berdasarkan kriteria-kriteria yang ditetapkan IUCN.

Berikut daftar terbaru (Versi 3.1) spesies yang termasuk IUCN Red List.

CITES Appendices

The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) adalah perjanjian internasional untuk memastikan perdagangan spesies hewan dan tumbuhan tidak menimbulkan ancaman terhadap kelangsungan hidup spesies tersebut. Para pihak dalam perjanjian ini adalah pemerintahan negara-negara yang menjadi anggotanya. Saat ini anggota CITES terdiri dari 181 negara.3

CITES menetapkan status konservasi untuk mengontrol perdagangan satwa dan tumbuhan antar negara. Para pihak atau anggota CITES wajib menunjuk otoritas yang bertugas mengawasi dan mengelola perdagangan satwa dan tumbuhan. CITES menyusun tiga kategori terhadap spesies-spesis yang diatur perdagangannya, yaitu:4

Apendix 1

Satwa atau tumbuhan yang terancam punah. Perdagangan terhadap spesies ini hanya diperbolehkan dalam keadaan luar biasa.

Apendix 2

Meliputi spesies yang tidak selalu terancam punah, namun perdagangannya harus dikontrol untuk menghindari pemanfaatan yang membahayakan kelangsungan hidupnya.

Apendix 3

Meliputi spesies yang dilindungi oleh paling sedikit satu negara dan pihak tersebut meminta bantuan CITES untuk mengendalikan perdagangannya.

Berikut ini daftar terbaru spesies yang diatur dalam CITES.

Hukum Republik Indonesia

Perlindungan tumbuhan dan hewan di Indonesia diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dalam peraturan ini dikenal dua status konservasi untuk tumbuhan dan satwa, yakni dilindungi dan tidak dilindung (pasal 20 ayat 1). Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi adalah yang berada dalam bahaya kepunahan dan atau populasinya jarang (pasal 20 ayat 2).

Daftar satwa dan tumbuhan terbaru yang dilindungi ada dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.  Dalam lampiran peraturan tersebut ada 249 spesies satwa dan tumbuhan.5 Cukup mengherankan, sejak tahun 1999 tidak ada penambahan atau pengurangan dari jenis-jenis tersebut.

Sumber & Referensi

  1. About IUCN. IUCN.
  2. IUCN. Red List Categories and Criteria. Version 3.1 Second edition. pdf.
  3. Members country. The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).
  4. How CITES works. The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).
  5. Lampiran PP No.7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.