Menjajal Sepeda Lipat Polygon Urbano i3 (bagian 1)

Polygon Urbano i3
Cecep Risnandar

Menyambung tulisan saya sebelumnya tentang memilih jenis sepeda, saya menjanjikan akan mengulas sepeda lipat Polygon Urbano i3. Tapi saya menundanya karena ingin terlebih dahulu menggunakannya.

Setelah lebih dari sebulan bergelut dengan si urbano, kini saatnya untuk berbagi pengalaman menggunakannya. Tulisan ini saya buat dalam dua bagian. Bagian pertama akan lebih banyak menguraikan fitur-fitur si urbano, sedangkan pengalaman menggowesnya akan saya paparkan di bagian dua.

Ternyata susah-susah gampang membeli si Urbano ini. Saya mendapatkannya di Rodalink Kelapa Gading, itu pun tinggal satu-satunya. Cukup jauh dari tempat saya tinggal di Tangerang, tapi karena sudah mantap saya tetap menjemputnya.

Harga Polygon Urbano i3 di Rodalink Rp. 4,1 juta. Saat itu juga saya upgrade beberapa bagian, seperti sadel diganti dengan yang lebih lebar mengingat sadel standarnya kurang cocok dengan postur saya. Kemudian memasang holder untuk tempat minum, memasang bel dan kunci sepeda.

Urbano i3 ini mempunyai saudara kembar yakni Urbano 3. Bentuknya sama persis, juga dengan spare part dan aksesorisnya. Pembedanya hanya ada pada jenis gear. Kalau Urbano i3 menggunakan internal gear 3 speed, kembarannya Urbano 3 memakai gear eksternal 7 speed. Harga Urbano 3 kalau tidak salah Rp. 3,55 juta, selisih Rp. 550 ribu dengan model Urbano i3.

Urbano i3 Vs Urbano 3

Urbano i3 Vs Urbano 3 (Foto: polygonbikes.com)

Sebagai sepeda kota, fitur-fitur Urbano i3 sudah cukup lengkap. Sepeda ini dilengkapi dengan fender untuk menahan cipratan air dan lumpur. Ada juga rak belakang untuk menyimpan tas dan mata kucing depan belakang untuk keamanan saat bersepeda di malam hari.

Melipat Urbano i3 Perlu Tenaga Ekstra!

Salah satu fitur utama sepeda lipat sudah barang tentu lipatannya. Di sini saya sedikit kecewa, engsel lipatan batang utama sangat keras. Saya sudah mencoba mengakalinya dengan mengendurkan mur-nya dan memberi sedikit pelumas, namun tetap saja engselnya terasa keras.

Ketika mau melipat atau membuka lipatan perlu tenaga ekstra. Sampai-sampai istri saya saja tidak kuat ketika harus melipat sepeda ini. Saya tidak tahu, apakah si Urbano yang saya dapatkan gagal produksi atau memang tipikalnya begitu semua.

Tapi nilai lebihnya rangka sepeda lipat ini menjadi sangat rigid. Ketika dikendarai tidak terasa ada engsel lipatan yang goyah, nyaris seperti sepeda biasa yang tidak memiliki engsel lipatan.

Urbano i3 ini tidak terlalu kompak ketika dalam keadaan terlipat. Masih ada ruang-ruang renggang sehingga lipatannya tidak terlalu ringkas.

Internal Gear 3 Speed, Praktis dan Minim Perawatan

Internal Gear

Internal Gear Shimanno Nexus 3 speed. (Foto: Cecep Risnandar)

Fitur kedua yang tak kalah menarik yaitu internal gear. Urbano i3 menggunakan internal gear Shimanno Nexus. Sayang pilihannya hanya 3 speed, padahal di pasaran Shimanno Nexus juga menawarkan yang 7 speed atau ada Shimano Alfine yang menawarkan hingga 8-11 speed.

Kenapa Polygon hanya menawarkan 3 speed, mungkin terkait faktor harga. Di pasaran Nexus 3 speed dijual sekitar 500 ribuan dan 7 speed sekitar 1 jutaan. Terlebih lagi yang 8-11 speed bisa 3-5 jutaan, sudah melebihi harga sepedanya he..he…

Lagi pula untuk ukuran sepeda perkotaan yang paling banter cuma melahap  fly over, dengan 3 speed saja bisa dipastikan mumpuni. Hanya saja dengan pilihan tiga tingkat kecepatan, saya yakin sepeda ini tidak bisa di bawa ngebutzz…

Salah satu keunggulan internal gear adalah lebih minim perawatan dibanding gear eksternal. Kita tidak perlu menambahkan pelumas secara rutin seperti pada eksternal gear, atau menyetel ulang gear setelah berkendara jauh.

Keunggulan lainnya, dengan internal gear perpindahan gigi bisa dilakukan sambil berhenti. Misalnya, saat berhenti di lampu merah kita bisa over gigi kemudian lanjut gowes. Perpindahan gigi pun bisa langsung melompat dari 3 ke 1, atau sebaliknya.

Berbeda dengan gear eksternal, perpindahan gigi harus bertahap karena kalau melompat akan terasa tidak nyaman. Gigi pada gear eksternal hanya bisa pindah kalau pedal diputar, perpindahan tidak bisa dilakukan saat berhenti.

Shifter Urbano i3

Shifter untuk perpindahan gigi. (Cecep Risnandar)

Shifter untuk memindahkan gigi menggunakan tipe twister atau diputar seperti Vespa. Mungkin sedikit tidak nyaman bagi yang terbiasa dengan shifter yang ditarik atau ditekan dengan jari. Karena saat ingin memindahkan gigi kita perlu mengendorkan pegangan pada handle grip dan menggerakan pergelangan tangan, kondisi yang bisa menganggu handling.

Fitur lainnya

Polygon Urbano i3

(Foto: Cecep Risnandar)

Crank bawaan Urbano i3 sangat standar, plusnya sudah dilindungi plastik agar oli atau kotoran dari rantai tidak belepotan mengenai celana saat menggowes. Materialnya biasa saja tidak ada yang istimewa.

Engsel lipatan untuk handlepost. (Foto: Cecep Risnandar)

Lipatan untuk handlepost cukup kokoh dan rigid. Cara membuka dan menutupnya juga cukup mudah. Hanya saja dalam keadaan terlipat, engselnya kurang rapi. Cenderung menonjol dan gampang tersangkut.

Seatpost dan klem pengencang. (Foto: Cecep Risnandar)

Seatpost dan klem pengencangnya menurut saya oke punya. Klem pengencangnya cukup empuk saat ingin membuka dan mengencangkannya, tapi bisa mencengkram seatpost dengan kuat.

Ada banyak fitur-fitur lain yang tidak saya bahas. Selanjutnya saya ingin memberikan ulasan pengalaman menggunakan sepeda ini di bagian dua. Stay tune…!