Kopi arabika

Diperbarui 4 minggu yang lalu    , ,

Kopi arabika adalah salah satu jenis komoditas kopi yang dihasilkan dari tanaman Coffea arabica. Tanaman ini dipercaya berasal dari daerah Etiopia kemudian dibawa oleh para pedagang Arab ke Yaman. Bangsa Arab mulai mempopulerkan ekstrak biji kopi arabika yang diseduh dengan air panas sebagai minuman penyegar.

Di abad ke-15 popularitas minuman kopi mulai menyebar ke Eropa. Awalnya orang-orang Eropa membeli kopi dari para pedagang Arab. Kemudian mulai mengembangbiakkan tanaman tersebut di Asia dan Amerika, lihat sejarah kopi. Sejak itu kopi menjadi komoditas yang sangat populer di seluruh dunia. Bahkan sempat menjadi komoditas kedua terbesar yang diperdagangkan secara global setelah minyak bumi.

Saat ini terdapat 4 jenis kopi yang diperdagangkan secara global, yakni arabika, robusta, liberika, dan excelsa.1 Lebih dari 99% perdagangan kopi dunia didominasi jenis arabika dan robusta. Sisanya dalam jumlah yang tidak signifikan terdiri dari jenis liberika dan excelsa.

Asal usul tanaman

Penyebaran kopi arabika

Tidak ada yang tahu persis kapan tanaman kopi arabika pertama kali dibudidayakan. Namun hampir semua literatur menyetujui tanaman ini berasal dari Abyssinia, sebuah daerah di Afrika yang kini mencakup negara Etiopia dan Eritrea. Dari Abyssinia kopi arabika dibawa oleh bangsa Arab ke Yaman, kemudian bangsa Eropa menyebarkannya ke seluruh dunia.

Kopi sebagai minuman pertama kali dipopulerkan oleh bangsa Arab. Literatur paling tua tentang biji kopi berasal dari catatan Al Razi, seorang ahli kedokteran yang hidup di abad ke-9. Orang-orang Eropa mulai mengenal kopi dari para pedagang Arab pada abad ke-16. Komoditas tersebut diperdagangkan di pelabuhan Mocha, Yaman. Untuk sekian abad lamanya pedagang Arab memonopoli perdagangan biji kopi. Hingga pada tahun 1616 seorang Belanda berhasil membawa tanaman kopi arabika ke luar dari pelabuhan Mocha.2

Terdapat dua macam kopi arabika yang dibawa orang-orang Eropa dari Yaman. Pertama, kultivar yang dibawa ke Jawa kemudian menyebar ke Asia Selatan dan Amerika Tengah dikenal sebagai Typica. Kedua, kultivar yang di bawa ke Brasil lewat La Reunion dikenal sebagai Bourbon, lihat gambar di atas.3 Kedua kultivar tersebut dipercaya menjadi sumber tanaman kopi arabika yang ada saat ini.

Di akhir abad ke-17 bangsa-bangsa Eropa mulai memproduksi sendiri tanaman kopi di daerah jajahan mereka yang tersebar di Asia dan Amerika. Mereka mulai menguasai perdagangan biji kopi dunia sekaligus mengakhiri dominasi para pedagang Arab. Hampir semua kopi yang diperdagangkan saat itu berjenis arabika. Belanda menjadi pemasok kopi terbesar dunia dengan basis produksi di Indonesia, lihat sejarah kopi.

Pada tahun 1878 hampir seluruh perkebunan kopi di Indonesia mengalami kerusakan karena wabah penyakit karat daun atau Hemileia vastatrix. Kemudian Belanda mengganti tanaman yang rusak dengan jenis liberika. Berselang 12 tahun tanaman kopi liberika mengalami serangan penyakit yang sama. Setelah melakukan riset, pada tahun 1907 Belanda kembali mengganti liberika dengan robusta.4

Sejak saat itu perkebunan kopi di Indonesia didominasi oleh tanaman kopi robusta. Secara nasional produksi kopi arabika di Indonesia hanya 17% sedangkan robusta hampir 83%. Sisanya dengan angka yang tidak signifikan terdapat jenis liberika dan excelsa.5

Saat ini kopi arabika banyak dihasilkan oleh negara-negara di Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Afrika. Brasil merupakan negara penghasil kopi arabika terbesar di dunia, diikuti Kolombia dan Etiopia.

Botani tanaman kopi arabika

Klasifikasi tanaman

Kerajaan: Plantae
Divisi: Tracheophyta
Kelas: Magnoliopsida
Suku: Rubiaceae
Marga: Coffea
Spesies: Coffea arabica L.

Nama ilmiah kopi arabika adalah Coffea arabica.6 Carl Linnaeus, ahli botani asal Swedia, menggolongkannya ke dalam keluarga Rubiaceae genus Coffea. Sebelumnya tanaman ini sempat diidentifikasi sebagai Jasminum arabicum oleh seorang naturalis asal Perancis. Kopi arabika diduga sebagai spesies hibrida hasil persilangan dari Coffea eugenioides dan Coffea canephora.7

Kopi arabika memiliki banyak kultivar, galur dan klon. Kebanyakan jenis yang ada saat ini bersumber dari kultivar Typica dan Bourbon yang dibawa dari Yaman. Kultivar Typica memiliki buah lebih besar, namun produktivitasnya lebih rendah. Sedangkan kultivar Bourbon memiliki daun yang lebih lebar, buah lebih membulat dan batang yang tegak.8

Deskripsi tanaman

Kopi arabika

Ilustrasi batang, daun dan buah kopi arabika. (Gambar: H. Sowerby, 1852)

Batang. Pohon kopi arabika memiliki perakaran yang dangkal, sekitar 30 cm dari permukaan tanah. Dalam keadaan yang terawat pohon ini tumbuh seperti perdu, tingginya sekitar 2-3 meter. Namun bila tidak dipangkas bisa tumbuh hingga 5 meter. Terdapat dua tipe cabang pada tanaman kopi arabika, yakni cabang yang tumbuh vertikal dan horisontal.

Daun. Tanaman kopi arabika memiliki daun yang kecil, panjangnya 12-15 cm dan lebar sekitar 6 cm. Warna daun hijau mengkilap speerti dilapisi lilin. Pada ketiak daun tumbuh mata tunas. Mata tunas ini bisa menjadi bunga atau menjadi cabang tergantung kondisi.9

Bunga. Bunga tumbuh dari mata tunas yang terletak di ketiak daun. Bunga menyerbuk sendiri, penyerbukan biasanya terjadi di pagi hari dengan bantuan angin atau serangga. Hujan yang mengguyur saat penyerbukan bisa menggagalkan proses penyerbukan. Waktu yang diperlukan mulai dari penyerbukan hingga menjadi buah siap panen sekitar 6-9 bulan.

Buah. Buah kopi arabika lebih besar dibanding robusta. Buah tersebut akan rontok dari tangkainya saat matang. Jadi perlu pemanenan yang hati-hati sebelum buah rontok.

Habitat tumbuh

Habitat tanaman kopi arabika terletak di antara 20° Lintang Selatan dan 20° Lintang Utara bumi. Di daerah subtropis, tanaman ini bisa ditanam di dataran rendah. Suhu udara sangat mempengaruhi pertumbuhan. Bila terlalu panas pertumbuhan tanaman terlalu cepat dan bunga keluar terlalu awal. Tanaman pun rentan terhadap serangan hama karat daun. Sedangkan bila suhu terlalu rendah pertumbuhannya lambat, akan banyak cabang-cabang sekunder dan tersier yang menganggu pertumbuhan buah.

Di Indonesia, tanaman kopi arabika hanya bisa tumbuh dengan baik di ketinggian 1.000-2.000 meter dari permukaan laut. Tanaman tersebut masih bisa tumbuh di dataran lebih rendah, hanya saja pertumbuhannya tidak optimal dan mudah terserang penyakit karat daun. Secara umum kopi arabika membutuhkan curah hujan 1.500-2.500 mm per tahun. Dengan bulan kering tidak lebih dari 3 bulan dalam setahun. Suhu udara yang dikehendaki tanaman ini ada pada kisaran 15-25°C.10

Sumber & Referensi

  1. Glossary Of Terms Used: Types of coffee. International Coffee Organization (ICO).
  2. Wiliam H. Ukers. 1922. All about coffee. The Tea and Coffee Trade Journal Company. New York.
  3. Les caféiers cultivés. Institut de Recherche pour le Développement, Marseille.
  4. Gabriela Teggia and Mark Hanuz. 2003. A Cup of Java. Equinox Publishing, Jakarta – Singapore.
  5. Areal dan Produksi. Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI).
  6. Coffea arabica L. ITIS.
  7. Coffea arabica (Arabica coffee). KEW Royal Botanic Gardens.
  8. Coffee Plants of The World. Specialty Coffee Association of America (SCAA).
  9. AAK. 1988. Budidaya tanaman kopi. Penerbit Kanisius, Jakarta.
  10. Surip Mawardo, Retno Hulupi, Aris Wibawa. 2008. Panduan budidaya dan pengolahan kopi arabika Gayo. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.